Dalam protokol Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS), tenaga medis menempatkan manajemen Airway (jalan napas) dan Breathing (pernapasan) sebagai urutan teratas dalam survei primer. Mereka memahami sepenuhnya bahwa sumbatan jalan napas dapat membunuh pasien dalam hitungan menit. Oleh karena itu, langkah pertama yang dilakukan perawat atau dokter adalah mengidentifikasi tanda-tanda obstruksi, seperti suara napas tambahan gurgling, snoring, atau stridor. Penolong segera membebaskan jalan napas dengan teknik manual seperti head-tilt chin-lift atau jaw-thrust jika mereka mencurigai adanya trauma tulang belakang.
Setelah mengamankan jalan napas secara manual, penolong sering kali menggunakan alat bantu untuk mempertahankan patensi jalur udara tersebut. Mereka memasang Oropharyngeal Airway (OPA) pada pasien yang tidak sadar guna mencegah lidah jatuh ke belakang dan menyumbat pangkal tenggorokan. Jika pasien masih memiliki refleks muntah, tenaga medis memilih Nasopharyngeal Airway (NPA) sebagai alternatif yang lebih aman. Tindakan cepat ini memastikan bahwa jalur masuknya oksigen tetap terbuka lebar sebelum berlanjut ke tahap evaluasi pernapasan yang lebih mendalam.
Memasuki fase Breathing, penolong tidak hanya memastikan jalan napas terbuka, tetapi juga menjamin bahwa pasien bernapas secara adekuat. Mereka melakukan inspeksi pada dinding dada untuk melihat pergerakan yang simetris, melakukan auskultasi untuk mendengarkan suara paru, dan memantau saturasi oksigen menggunakan pulse oximetry. Jika pasien menunjukkan tanda-tanda sesak napas atau hipoksia, penolong segera memberikan oksigen tambahan melalui non-rebreathing mask (NRM) atau melakukan ventilasi tekanan positif menggunakan Bag Valve Mask (BVM).
Ketangkasan tenaga medis dalam mengelola pernapasan juga mencakup kemampuan mendeteksi kondisi yang mengancam nyawa seperti Tension Pneumothorax. Dalam simulasi BTCLS, penolong harus berani melakukan tindakan dekompresi jarum jika mereka menemukan pergeseran trakea dan hilangnya suara napas pada satu sisi paru. Mereka menjaga ritme ventilasi tetap stabil agar pertukaran gas di paru-paru berjalan optimal. Melalui penguasaan teknik Airway dan Breathing yang disiplin, para praktisi kesehatan berhasil mencegah kerusakan organ akibat kekurangan oksigen dan meningkatkan peluang pemulihan pasien secara signifikan.







