Menguasai Initial Assessment: Seni Penyelamatan yang Aktif

Setiap tenaga kesehatan atau penolong pertama yang menghadapi situasi gawat darurat memegang kunci untuk menentukan nasib korban. Ketika sirene meraung atau panggilan darurat datang, penolong memulai proses kritis yang dikenal sebagai Initial Assessment atau Penilaian Awal. Proses ini bukan sekadar pemeriksaan; ini adalah serangkaian tindakan cepat dan terorganisir yang menjamin bahwa ancaman terbesar terhadap kehidupan pasien segera teridentifikasi dan diatasi.

Penilaian Awal menuntut kecepatan dan presisi. Kita fokus pada waktu yang sangat singkat, seringkali hanya dalam 60 hingga 90 detik, untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang paling mengancam jiwa. Tujuan utamanya selalu sama: menstabilkan fungsi vital pasien sebelum melakukan langkah diagnostik lebih lanjut.

Penolong yang profesional selalu mengamankan dirinya terlebih dahulu. Begitu tiba di lokasi, kita melakukan Scene Size-up. Kita menilai dengan cepat, “Apakah lingkungan ini aman?” Kita memastikan bahwa kita dan korban tidak menghadapi bahaya tambahan, seperti tumpahan bahan kimia, listrik yang menjuntai, atau lalu lintas padat. Selanjutnya, kita mencari mekanisme cedera—bagaimana kejadian itu terjadi?—karena informasi ini membantu kita memperkirakan jenis cedera internal yang mungkin dialami pasien. Pada saat yang sama, kita menghitung jumlah korban dan segera meminta bantuan tambahan jika situasi melampaui kemampuan kita.

Setelah tempat kejadian aman, kita melangkah ke Penilaian Primer, yang merupakan jantung dari Initial Assessment. Kita menggunakan akronim ABCDE untuk memandu setiap tindakan.

A. Airway (Jalan Napas)

Penolong pertama-tama mengecek jalan napas. Apakah pasien sadar dan berbicara? Jika ya, jalan napasnya kemungkinan besar terbuka. Jika tidak, kita melakukan tindakan pembukaan jalan napas yang sesuai. Untuk pasien trauma, kita menggunakan teknik Jaw Thrust untuk meminimalisir gerakan leher, dan pada saat yang sama, kita mempertahankan stabilisasi tulang belakang leher (cervical). Kita berjuang untuk membebaskan jalan napas dari sumbatan apa pun, karena sumbatan total menghentikan pertukaran oksigen.

B. Breathing (Pernapasan)

Selanjutnya, kita menilai pernapasan. Kita melihat dada bergerak, mendengar suara napas, dan merasakan embusan udara. Kita mengevaluasi frekuensi, kedalaman, dan kesimetrisan pernapasan. Jika pernapasan tampak dangkal, lambat, atau bahkan tidak ada, kita segera memberikan bantuan ventilasi menggunakan alat bantu pernapasan dan melengkapi dengan pemberian oksigen konsentrasi tinggi.

C. Circulation (Sirkulasi)

Setelah jalan napas dan pernapasan aman, kita beralih pada sirkulasi. Kita meraba nadi—lokasi dan kekuatannya memberi tahu kita banyak hal. Kita juga mencari tanda-tanda syok pada kulit: apakah kulit pucat, dingin, atau lembab? Secara kritis, kita mengidentifikasi dan mengendalikan setiap perdarahan hebat eksternal yang mengancam nyawa. Penekanan langsung menjadi prioritas utama. Jika tidak ditemukan denyut nadi, kita memulai Resusitasi Jantung Paru (RJP) tanpa penundaan.

D. Disability (Disabilitas)

Tahap ini mengharuskan kita menilai status neurologis pasien secara cepat. Kita menggunakan skala AVPU untuk menentukan tingkat kesadaran. Apakah pasien sadar (Alert), hanya merespons suara (Verbal), hanya merespons nyeri (Pain), atau tidak merespons sama sekali (Unresponsive). Penilaian ini membantu  kita memprediksi masalah kepala atau tulang belakang.

E. Exposure (Pemaparan)

Akhirnya, kita memaparkan pasien. Kita membuka pakaian seperlunya untuk mencari cedera tersembunyi yang mungkin terlewat pada penilaian cepat sebelumnya. Setelah pemeriksaan selesai, kita menutupi pasien kembali, karena kita menyadari bahwa mencegah hipotermia sama pentingnya dengan mengobati perdarahan.

Setelah menyelesaikan Penilaian Primer dan memastikan pasien distabilkan sebatas kemampuan kita di lapangan, kita membuat keputusan transportasi. Jika pasien membutuhkan intervensi bedah atau perawatan definitif yang hanya tersedia di rumah sakit (misalnya, trauma parah), kita memutuskan untuk Load-and-Go—cepat mengangkut pasien. Jika pasien stabil, kita dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk Secondary Survey yang lebih detail di lokasi.

Initial Assessment menuntut tenaga kesehatan untuk bertindak sebagai perwira komando, membuat keputusan hidup atau mati dalam hitungan detik. Penguasaan teknik sistematis ini memastikan bahwa kita memberikan peluang terbaik bagi pasien untuk bertahan hidup dan pulih.

Dalam pelatihan BTCLS, initial Asessment adalah materi yang sangat krusial. Maka dari itu, jadilah tenaga kesehatan yang hebat yang dibekali dengan ilmu.